Menjadi
asisten rumah tangga bukanlah hal yang mudah, apalagi sambil kuliah. Hal itu menuntut manajemen waktu yang baik, kesabaran,
serta semangat yang kuat. Kisah ini dijalani Sri Sintia, gadis luar biasa dari
Teluk Pakedai, Kubu Raya.
Sri
Sintia, lahir di Teluk Pakedai, 10 Januari 1994. Ia adalah seorang mahasiswi di
IAIN Pontianak semester VII, Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah
dan Ilmu Keguruan. Sehari-hari, gadis berjilbab ini bekerja sebagai asisten
rumah tangga.
Ia
senang mendapat info tentang lowongan kerja itu setelah lulus SMA. Namun di
sela-sela rasa senang itu, ia sempat bingung mempertimbangkan antara kuliah
atau bekerja.
“Sudah
tiga tahun lebih bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Semenjak masuk kuliah,
dari semester satu dan sekarang sudah semester tujuh,” kata Sri saat ditemui di
kampusnya, Rabu (28/09).
Informasi
tentang pekerjaan ini didapatnya dari kakak angkat. Lantaran tertarik, Sri
kemudian menggali informasi lebih dalam mengenai pekerjaan tersebut. Sesuai
perjanjian dengan majikan, Sri Sintia dapat bekerja sambil kuliah.
Sebelum
memutuskan untuk bekerja, Sri terlebih dahulu meminta restu kepada kedua orang
tuanya.
“Pertama bilang ke orang tua dulu, boleh atau tidak. Orang tua bilang
terserah, yang penting benar dan sesuai apa tujuannya. Setelah mendapatkan
restu orang tua, barulah saya memutuskan
mau kerja di situ,” tutur Sri dengan mimik wajah senang.
Sri
Sintia adalah putri kedua dari pasangan Ali Nurdin dan Siti Nur Rohmah. Mereka
enam bersaudara. “Kakak satu sudah nikah. Saya anak kedua. Jadi ada empat adik.
Bagi-bagi duitnya itu susah, adik juga sekolah. Ayah bekerja mengkopra kelapa.
Ibu bantu-bantu ayah,” katanya sembari mengingat-ingat keluarga di kampung.
Bicara
soal gaji, Sri menyebutkan, sesuai dengan perjanjian awal, biaya kuliahnya
ditanggung oleh majikan. Setiap enam bulan sekali, majikan memberinya uang daftar
ulang sejumlah Rp.1.335.000.
“Setiap
bulannya dikasih uang jajan Rp.250.000. Sekarang sudah Rp.300.000. Kalau
dihitung, gaji bersih Rp.600.000 sampai Rp.700.000, karena waktunya tidak full
di rumah, kepotong waktu di kampus,” jelasnya.
Bekerja
sambil kuliah bukanlah hal yang gampang. Apalagi ketika ada tugas mata kuliah
wajib sementara di rumah ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Sri
dituntut untuk pintar membagi waktu agar kedua kepentingan itu bisa berjalan
beriringan.
“Sebenarnya
susah sih bagi waktunya, di sisi lain kita mikir belajar, belum lagi kalau ada
tugas-tugas kelompok dan studi ke perpustakaan. Sementara kalau kita sudah
pulang, pastilah sudah fokus di rumah,” katanya.
Jadi
ketika ada tugas, biasanya ia baru bisa mengerjakannya pada malam hari karena
Sri menyelesaikan pekerjaan di rumah terlebih dahulu. Namun, jika ada tugas
kuliah yang benar-benar urgen dan harus segera diselesaikan maka ia akan
membicarakannya dengan majikan dan meminta izin.
Dari
segi fasilitas, tempat Sri bekerja sudah lengkap dan sangat menunjang
keperluannya sebagai mahasiswa. Di rumah itu ada kantor, dan jaringan internet
yang lancar.
“Fasilitas sudah lengkap,”
ujarnya.
Demi
kenyamanan dan kelancaran kerja, para pekerja seharusnya mendapatkan asuransi.
Hal inilah yang tidak didapatkan oleh Sri Sintia. “Kalau misalkan bisa,
adakanlah asuransi untuk pekerja rumah tangga. Soalnya kita butuh dan tidak
tahu ke depannya bagaimana. Kalau bisa diasuransikan,” pintanya.
Mengenai
pekerjaannya ini, Sri Sintia merasa lebih cocok disebut “pekerja rumah tangga”
dibanding “pembantu”. Sebutan “pembantu” dirasakan memiliki konotasi yang
negatif. “Memang sih kita bantu-bantu,
tapi pembantu itu kan kayak budak di zaman dulu,” katanya.
Bekerja
sebagai asisten rumah tangga juga berpengaruh terhadap kehidupan sosial Sri.
Waktunya untuk bergaul atau berkumpul dengan teman-teman sangat terbatas.
Ketika ada waktu free, teman-teman
disuruh datang ke rumah. Majikan menentukan, setelah pulang kuliah harus sudah
ada di rumah.
“Itulah
tu yang susah. Pengen kumpul, soalnya kita juga butuh kawan. Paling kalau ibu
lagi keluar, kawan-kawan yang disuruh ke rumah. Ibu majikan lebih mengizinkan
kawan-kawan ke rumah, dan membatasi untuk kumpul-kumpul di luar. Apalagi sudah
magrib, tidak boleh ada lagi aktivitas di luar rumah,” jelasnya.
Sepanjang
pengalamannya bekerja, Sri mengaku waktu paling melelahkan adalah ketika ada
acara arisan di rumah. Ia baru bisa beristirahat sekitar pukul 9 malam.
“Yang
paling capek itu ketika ada arisan. Masak, ngemasin rumah, ke pasar, nyuci dan
lain-lain. Bangun setengah lima, ke masjid salat subuh. Sekitar jam lima
mengurusi kucing, memberi makan, membersihkan tempatnya, membuang kotorannya.
Kucingnya ada sembilan ekor. Selebihnya mengerjakan pekerjaan rumah tangga pada
umumnya,” tutur dia.
Hubungan
dengan keluarga di kampung dilakukan melalui sambungan telepon atau pesan
pendek. Untuk ketemu langsung sulit, faktor lokasi yang jauh. Ketika hari raya,
ada waktu pulang tiga hari.
“Sedihnya itu jauh dari orang tua, belum lagi
pusing-pusingnya dengan tugas kuliah, kalau dekat dengan orang tua bisa cerita.
Kalau cerita dari sini, kasian orang tua kepikiran. Biasanya badan sampai drop
kalau banyak pikiran,” katanya.
Sri
Sintia ketika pulang kampung, menempuh perjalanan dengan medan yang berat.
“Kondisi jalan yang rusak, di daerah persawitan, tanah kuning. Kalau sudah
hujan, tanah menempel di ban motor. Dari perjalanan sebenarnya capek, mau
istirahat, tapi karena kerja, ya tidak jadilah,” tuturnya.
Kepikiran
mau berhenti sebagai pekerja rumah tangga, pernah terbesit di pikiran Sri
Sintia.
“Pernah ibu majikan marah-marah, saya kepikiran mau berhenti. Tapi
kasihan melihat ibu majikan, karena dia emosi sesaat. Sampai sekarang, ketika
ada masalah, pengen berhenti, tapi dipikir lagi. Masak gara-gara hal seperti
itu berhenti kerja. Saya coba dihadapi secara lebih dewasa,” jelasnya.
Sri
Sintia menyampaikan harapannya untuk para pekerja rumah tangga, agar mendapat
perhatian khusus dari pemerintah.
“Harapan saya pribadi bisa lulus kuliah, bisa
dapat kerja, ingin balas kebaikan orang tua. Untuk para pekerja rumah tangga,
diharapkan pemerintah bisa memberikan peraturan-peraturan yang layak seperti
pekerja lainnya, ada UMR nya, jadi kan jelas, dan udah diatur. Semua orang-orang kaya itu didata, ada berapa orang
yang membutuhkan tenaga kerja, sehingga mereka itu tidak semena-mena kepada
pekerja rumah tangga,” pintanya.
Sri
meneruskan, “Terus para pekerja rumah tangga disejahterakan, misal yang sudah
bekerja setahun lebih itu dilihat latar belakangnya. Seperti ada yang dari
kampung, kalau bisa diberi fasilitas yang memadai, seperti menyekolahkan
saudara atau keluarga yang tidak mampu. Terus dari kesehatannya juga, tolong
diperhatikan. Dari fasilitas, tempat tidur tolong diperhatikan juga. Jadi, jangan cuman butuh tenaganya aja, tapi
diperhatikan juga ketika sakit, dan dengarkan apa keluh kesahnya. Seperti
ketika mengasuh anak, ketika anaknya yang salah, jangan menyalahkan para
pekerja rumah tangga,” harap Sri Sintia. (*)
Penulis: SUKARDI (Adi TB)

0 Komentar